Diriku yang Labil
(06/11/2018)
Ada sisi penting hidupku yang perlu aku raih kembali, apa itu? Yaitu tekad untuk mengikuti jalan Islam hingga aku tidak punya keraguan sedikitpun. Walau harus menahan rasa lapar, lelah berjalan kaki saat terik maupun gelap malam, justru membuatku tambah kuat untuk mencari ilmu agama.
Namun disaat ini aku jarang ke tempat seperti itu lagi, ditambah tempat yang aku tinggali benar benar membuatku ingin pergi dalam mode senyap.
Tak ada yang perlu aku salahkan, yang ada hanya jiwaku yang lemah dalam mengambil tekad, jiwa yang mampu memprediksi tapi membiarkan analisanya kembali hilang dalam mode senyap tanpa ingin direalisasikan.
Misalnya saja, aku memprediksi tempat tinggalku akan onar dengan jumlah penduduk sebanyak ini, tapi aku tak peduli dengan itu saat 6 bulan yang lalu. Tapi kini keonaran ini membuatku berpikir menghilang dengan mode senyap tapi lagi-lagi analisa itu hilang dalam mode senyap.
Penyebabnya adalah sisi negatif dari kemampuan ini, yaitu saat engkau mampu memprediksi semuanya maka engkau akan mampu membaca kemungkinan terburuk, walaupun itu bukan hasil akhir dan sering tidak terjadi tapi itu tetap menggangu terealisasinya prediksi.
Mungkin kesalahanku selama ini adalah menganalisa tanpa berpikir jalan terbaik untuk bisa berjalan mulus sebisa mungkin, dengan beberapa kemungkinan buruk. Tapi ini poin kesalahanku yaitu tidak memikirkan prosesnya untuk kesana lebih detail dan lemah dalam bertindak.
Saatnya bertindak, walau kita ketahui hambatan akan selalu ada layaknya hukum listrik. Agar arus listrik mampu menyalakan peralatan listrik maka tidak ada jalan lain selain melalui hambatan(kabel). Dan ingat pendorong arus tadi adalah tegangan listik (penyemangat). Agar kuat arus meningkat maka diperlukan tegangan yang lebih kuat.
Jadi persiapkan tegangan untuk melampaui hambatan. Dengan itu, maka arus mampu ke peralatan listrik.

Komentar
Posting Komentar