Solve A Problem

(18/01/2019)
Hidupku telah menginjak umur 21 tahun, dimana tanggung jawab sedikit demi sedikit menghinggapi pundaku. Membayangkan saat kecil dulu, saat aku tak memiliki beban sedikitpun. Kesalahan bukanlah hal yang perlu aku pikirkan, cukup menangis dan Ibu akan menenangkanku seolah tak ada masalah apapun. Waktu telah mengantarku ke titik ini. Saat masalah yang telah kulalui di masa lampau, kini telah membentuk karakterku saat ini. Namun masalah itu terus menghampiri dan terus menerus akan menghampiri.

Namun video itu membuatku tercengang bahwa masalahku terlalu sepele jika yang kupikirkan hanyalah bergelut masalah pribadiku saja. Kuliah yang kugeluti, karir, dan jodoh, bukanlah sesuatu yang aku cemaskan. Namun yang mestinya aku cemaskan adalah umat Rasulullah SAW, yang kian hari makin dihadapkan banyak problematika.

Tak perlu beranjak jauh, cukup menoleh ke tempatku berasal. Disana problematika menanti untuk diselesaikan. Banyak mata yang memperhatikan infrastruktur yang perlu dibenahi, apalagi masalah listrik yang tak kunjung memberi harapan pasti untuk menopang paling tidak kehidupan di malam hari. Aku selaku mahasiswa elektro sepatutnya setuju dengan ini. Karena indikator kemajuan suatu kawasan, adalah seberapa besar kebutuhan listrik kawasan tersebut. Semakin maju, maka semakin membutuhkan daya listrik lebih besar.

Tapi tidak...! Bukan itu akar permasalahan dari semua itu. Jika itu yang dijadikan tolak ukur untuk kemajuan, maka benarlah bahwa kita telah berkacamata dengan materialisme. Memandang semuanya dengan materi. Gedung yang tinggi, daya beli masyarakat yang tinggi adalah tujuan dari kemajuan ini namun melupakan moral dari masyarakat.

Kembali ke tempatku berasal. Bagian titik kecil dari segala problematika yang sedang mengguncang dunia. Ketika masyarakat umum menatap tajam PLN sebagai masalah yang penting, mataku justru menatap generasi mudah yang semakin linglung dengan moralnya sendiri. Generasi semakin terpuruk melebihi generasi sebelumnya, diakibatkan generasi sebelumnya memberi contoh hingga berimbas ke generasi selanjutnya yang semakin terpuruk.

Contohkan saja saat generasi 2000-an awal. Rokok, pacaran, minuman keras adalah hal yang tabu saat mereka SMP, bahkan sebagian besar tetap anti dengan itu saat SMA. Namun itu terbalik saat ini, SMP sebagian besar telah menikmati itu semua, apalagi jenjang SMA. Perlahan-lahan virus itu meretas ke jenjang lebih bawah, merambat dari generasi ke generasi selanjutnya tanpa ada pencegahan yang berarti dari masyarakat.

Malang...! Norma kini mulai berubah. Masyarakat kini menganggap hal itu telah menjadi lumrah ketika remaja SMP menghisap rokok sembari keluar malam menuju lingkaran minuman keras bersama orang dewasa. Nilai yang ada pada masyarakat memang akan berubah, namun tidak jika nilai itu tetap berpegang teguh dari asalnya, apa itu? Islam. Solusi dari berbagai problem sebagai mafahim hingga menjadi pemahaman, perasaan, dan peraturan dalam sebuah masyarakat.

Adakah para penolong?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Hening Ketika Senyap

Ghazwul Fikr : Pola Baru Menyerang Islam

Resensi buku doloe